Beranda » Seruan Boikot, Ini Dampaknya Bagi Israel dan Perusahaan Pendukungnya

Seruan Boikot, Ini Dampaknya Bagi Israel dan Perusahaan Pendukungnya

Gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$ 11,5 miliar atau sekitar Rp 180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi perekomonian Israel.

by iman sahid
Seruan Boikot, Ini Dampaknya Bagi Israel dan Perusahaan Pendukungnya

BISNISTIME.COM – – Sejumlah negara yang tergabung dalam organisasi Liga Arab akhirnya sepakat dan resmi untuk memboikot perusahaan dan produk yang berafiliasi dengan Israel.

 

Hal tersebut tercantum dalam pernyataan yang dikeluarkan pada akhir konferensi ke-96 oleh Pejabat Penghubung Kantor Regional Arab tentang Boikot Israel, yang diadakan di Kairo Mesir.

 

“Mengumumkan larangan terhadap Perusahaan dan produk yang melanggar aturan dan ketentuan serta memboikot seluruh produk pro Israel,” ujar keputusan Liga Arab seperti dilansir dari middle east monitor, Minggu (7/7/2024).

 

Menanggapi hal tersebut Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH.Athian Ali  mengaku bersyukur walaupun terkesan terlambat namun sangat mengapresiasi. Meski sebelum pernyataan resmi boikot tersebut dikeluarkan sebagian masyarakat khususnya di wilayah Arab sendiri gerakan boikot produk pro Israel tersebut sudah berjalan efektif.

 

“Berharap khususnya negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim semakin serius dan massif melakukan Gerakan boikot tersebut. Meski secara fisik kita tidak bisa melawan dan memerangi Israel namun kita bisa melawan mereka dari sisi ekonomi dan itu cukup efektif untuk menghentikan kebiadaban zionis Israel, “ujar KH Athian kepada redaksi.

 

Sementara di Indonesia sendiri meski seruan boikot sudah dipelopori masyarakat , KH.Athian berharap pemerintah Indonesia bisa mengeluarkan pernyataan resmi terkait boikot tersebut. Mengingat Indonesia menjadi salah satu negara dengan mayoritas penduduknya muslim maka pernyataan resmi dari pemerintah sangat diharapkan sehingga masyarakat khususnya yang muslim merasa terpanggil.

 

“Meski sebagai muslim yang sadar dan paham seharusnya bisa melakukan sendiri tanpa harus menunggu himbauan resmi dari pemerintah,”imbuhnya.

 

Terkait sebagian muslim ada yang belum mampu memboikot seluruh produk, KH. Athian sendiri berharap tentunya akan lebih baik jika mampu memboikot seluruh produk yang terafiliasi dukungan kepada Israel harusnya kita boikot namun sekiranya tidak atau belum ada gantinya maka jangan lantas merasa berkecil hati.  Namun hendaknya tetap dan terus berusaha menghindari penggunaan dan mengkonsumsi produk yang jelas mendukung Israel.

 

“ Berbicara keberpihakan dan dukungan menurut saya adalah hal yang mendasar bagi seorang muslim. Ancaman yang paling berat adalah keimanan kita, paling rendah para ulama menafsirkan hadits “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”, sebagai ancaman keimanan. Sementara dampak boikot misalnya berimbas pada sisi ekonomi contoh di PHK itu resiko paling kecil dibanding resiko yang dihadapi saudara kita di Palestina yang menghadapi resiko kehilangan raga dan nyawa, bahkan yang terbesar kita resiko kehilangan kesempurnaan keimanan kita didapan Allah Ta’ala,” terang KH.Athian.

 

Sebagai muslim menurut KH Athian, harus meyakini dan mengamalkan hadits tersebut hendaknya mengesampingkan resiko duniawi dibanding dengan resiko akhirat.

 

“Bahkan kita pun harus siap dan rela kehilangan nyawa sekalipun untuk membela saudara muslim khususnya di Palestina,” pungkasnya.

 

Dampak Boikot Bagi Ekonomi Israel

Meskipun belum ada laporan resmi nilai kerugian terbaru yang diderita Israel akibat Gerakan boikot, namun melansir laporan Al Jazeera pada 2023 lalu mengungkap bahwa gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$ 11,5 miliar atau sekitar Rp 180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi perekomonian Israel.

 

Sementara data yang dipublikasikan Bank Dunia yang dilansir dari CNBC menunjukkan bahwa ekspor barang-barang “intermediet” Israel mengalami penurunan tajam dari 2021 hingga 2023 sehingga menimbulkan kerugian sekitar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 94,16 triliun akibat aksi boikot tersebut.

 

Dampak Boikot Bagi Perusahaan.

Pada Mei 2024, laman Foxnews melaporkan McDonald’s mengungkapkan kampanye boikot di Timur Tengah, Indonesia, dan Malaysia menyebabkan pada kuartal keempat 2023 pertumbuhan penjualan di sana hanya 0,7 persen. Padahal tahun sebelumnya, pertumbuhan penjualan sampai 16,5 persen.

 

Selain itu, Unilever produsen sabun Dove, es krim Ben & Jerry’s, dan Knorr, pada bulan yang sama menyatakan bahwa penjualan di Indonesia turun double digit selama kuartal keempat karena isu geopolitik.

 

Penjualan McDonald’s dan Starbucks juga mengalami kelesuan. Starbucks pada Selasa (30/4/2024) memangkas target penjualan tahunannya setelah melaporkan penurunan penjualan untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun terakhir.

 

Hal yang sama dilaporkan The New York Times dimana lesunya penjualan terjadi di pasar terbesar Starbucks yaitu di AS yang turun tiga persen dan Cina 11 persen. Nilai saham mereka turun 12 persen pada perdagangan Selasa lalu. Selain itu, target keuntungan kuartalan di Timur Tengah tak tercapai akibat situasi geopolitik dan gerakan boikot.

 

Momentum untuk Produk Lokal

Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) menyebutkan aksi boikot produk terafiliasi Israel memicu perubahan kebiasaan baru bagi konsumen Muslim Indonesia lebih memilih konsumsi produk lokal. Hal itu berimbas potensi membuka lapangan pekerjaan baru di dalam negeri.

“YKMI justru melihat bahwa seiring boikot, produk- produk nasional mengalami peningkatan penjualan yang signifikan serta membuka lapangan pekerjaan baru,” kata Direktur Eksekutif YKMI Ahmad Himawan dilansir dari detik, Minggu (17/3/2024).

 

Ahmad mengatakan gerakan boikot bisa menghadirkan dampak memukul yang besar bagi perekonomian Israel. Hal tersebut diungkapkan olehnya saat diskusi publik bertajuk ‘Ramadan Tanpa Produk Genosida di Jakarta, Jumat (15/3/2024).

 

“Kami yakin aksi boikot ini mampu melemahkan ekonomi Israel dan dalam jangka panjang, membuat Israel tak punya kekuatan untuk menyerang dan membunuh Bangsa Palestina,” tuturnya.

 

Pengajar Komunikasi Pemasaran di London School of Public Relations Safaruddin Husada mengatakan aksi boikot tersebut bisa menjadi momentum untuk produk lokal. Brand lokal bisa punya keleluasaan mengkomunikasikan keunggulan produknya sekaligus posisi brand sebagai produk nasional yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

 

“Sebenarnya, ini momen yang pas bagi merek lokal untuk menunjukkan ke publik kalau mereka berdiri di sisi yang benar, tidak memiliki keterkaitan apapun yang sifatnya bisa melanggengkan penjajahan Israel atas Palestina,” kata Safaruddin.

 

“Kuncinya brand yang berhasil mengkomunikasikan reputasinya sebagai perusahaan yang bersih dari tindakan tidak berperikemanusiaan, seperti yang dengan kasat mata dipraktikkan Israel di Gaza hari-hari ini, yang bakal mendapat tempat khusus di hati konsumen,” sambungnya.

 

Hal senada pun turut diungkapkan oleh Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Jaya, Algooth Putranto. Menurutnya, masalah terbesar sejumlah brand perusahaan multinasional yang tengah didera gelombang boikot adalah ketiadaan keterbukaan terkait nature hubungan induk mereka di luar negeri dengan rezim zionis Israel.

 

Menurutnya, brand lokal bisa meraup keuntungan dari perubahan pola konsumsi masyarakat akibat aksi boikot produk Israel.

 

“Berbagai pernyataan dan bahkan penyangkalan dari sejumlah brand asing sejauh ini nampaknya tak berbekas, karena konsumen juga sudah pintar, bisa mencari sendiri informasi yang tersedia secara ekstensif di Internet. Tak ada jalan lain, mereka harus berani berterus terang terkait relasi induk mereka dengan Israel. Kejujuran seperti itu yang ingin didengar konsumen,” tutupnya. [ ]

 

Red: admin

Rekomendasi Untuk Anda